Moms, Upgrade Your EQ, Please..

Status BBM seorang teman siang ini: “Giving birth doesn’t makes you a mother kalau cuma dititipin ke nanny”

JEEDAAAARR!!!

Aku yang biasanya cuma mesam mesem setiap kali topik tentang Working Mom versus Stay at Home Mom beredar di milis ataupun twitter kali ini meradang jugak.. kenapa? karena aku bacanya di recent update BBM yang berarti aku kenal sama orang yang nulis ini. Aku ngerasain kontraksi selama 10 jam dan harus ngeden selama 2 jam masih dibilang bukan seorang ibu? Sutra lah yaa kalo dia mau mikir gitu, tapi mbok ya pikiran dangkalnya itu ga usah dipublish..

Walaupun Arka gak dipegang nanny dan diurus dengan sangat baik oleh mama aku sendiri tapi kata dititipin itu yang bikin nyolot, heeeh aku nitipin anak juga buat cari duit kaliii.., duitnya juga buat anak kalii…

Pas aku lagi ngomel-ngomel di twitter, @amypangestu mereply dengan kata-kata yang jlebb dan bikin aku bisa memaklumi si pembuat status itu, she said:

not all stay at home moms update themselves, or should I say upgrade their knowledge & how they perceive things :p

Hooh jadi statement itu bisa muncul karena dia gak pernah upgrade otaknya alias bodooo gituuu hahahaaaaa 😀

Aku gak pernah bermasalah dengan status Working Mom, Working at Home Mom ataupun Stay at Home Mom, tapi boleh kan kali ini aku mengeluarkan ganjelan yang kadang aku rasain as a working mom..

Entah aku yang sensitip atau memang ini juga dirasain ibu bekerja lainnya, aku merasa ada beberapa (gak semua loh yah) Stay at Home Mom (mereka sih maunya disebut Fulltime Mom -__-!) a.k.a Housewives a.k.a Ibu Rumah Tangga ini sering banget membully para Working Mom dengan kalimat-kalimat seperti yang ditulis temenku itu, mengintimidasi kami dengan topik “seorang ibu itu sudah seharusnya berkorban dengan tinggal disamping anaknya dan menemani mereka tumbuh” jadi kalau si ibu lebih memilih berkarir dan meninggalkan anaknya dirawat nenek atau nanny itu bukan ibu namanya.. Mereka juga hobby banget membesar-besarkan rasa bersalah si Working Mom karena gak bisa menemani anaknya di rumah.

Iya..iya.. aku tau gak semua SAHM berpikiran kerdil gitu, banyak kok yang baik dan ‘ramah’ terhadap para WM yang malang ini *mulailebay* malah gak sedikit juga SAHM yang diem-diem kepingin jadi WM, wah loohh… 😀

Nah, untuk beberapa SAHM yang merasa perlu upgrade ‘kadar empati’nya, silahkan ditelaah (ciyeeeh) pembelaan aku ini dengan hati bersih yaa..

1. My family still needs my contribution !!

Tujuan aku bekerja di luar rumah sama kayak tujuan suami, berjuang mengumpulkan rupiah (sukur kalo bisa euro) demi masa depan yang baik untuk anak kami, untuk melindungi kesejateraan anak kami.

Ada di rumah menemani anak memang mulia, toh rejeki pasti akan datang untuk orang-orang yang ikhlas dan bersabar, tapi pikiran aku sederhana aja: dari gaji suami kami bisa masukin 400 ribu perbulan ke RD,  Arka udah bisa kuliah di singapur. Nah kalau ditambah 400 ribu lagi dari gaji aku, mungkin kelak Arka bisa kuliah di enggreees.. see the different?? Aku mau masa depan yang lebih cerah ceria buat anakku, bukan sekedar bisa menemani dia di rumah seharian.

2. Aku mau bikin mama bangga

Iya, aku tau banget kalau diam-diam mama bangga aku berkarir, makanya dia rela-rela aja dimintain tolong untuk jagain Arka 😀
Selain itu, aku ini bagian dari sandwich generation yang harus peduli dengan kesejahteraan mama.

3. Anak tetap prioritas nomer satu

Buktinya??

Arka berhasil lulus S1 ASI Ekslusif dengan predikat cumlaude, lulus S2 dan S3 tanpa bantuan sufor sama sekali (yang belum cuma lulus weaning aja, huhuhuuu….kapan sih Nak??).
Lulus MPASI rumahan tanpa gula garam dan tanpa bantuan Instan Food sampai dia umur 1 tahun penuh. Sekarang makan table food yang sama persis aku dan ayahnya.
Imunisasi lengkap. Belum pernah kena Antibiotik dan obat-obatan apapun (kecuali paracetamol yaa..)
Grafik milestonenya selalu bagus, data-data pertumbuhannya di GrowthChart gak pernah ketinggalan aku update tiap bulan
Lulus toilet training umur 23 bulan, dan resmi lepas diapers kemana pun dia pergi di umur 25 bulan.

Nah, kurang apalagi coba?? Haaahh?? Hahhh?? Masih mau bilang WM gak bisa mendidik anak dengan baik? *gaksante*

Huhuhuuu kenapa gue jadi esmoni gini yaaa 😦

Please donk mommies, jangan cuma rajin update info seputar parenting aja, tapi upgrade juga kadar kedewasaan kalian, tau diri saat melemparkan sebuah statement, seorang ibu adalah contoh nomor satu untuk anaknya, kalau ibunya gak bisa dewasa saat bersosialisasi, gimana anaknya mau berkembang dengan baik?
Kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial seorang ibu akan membentuk kepribadian si anak saat dia dewasa nanti.

*justmytwocent*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s