All posts by yoanna fayza

Ibu dua anak, menetap dan jatuh cinta dengan setiap sudut kota Jogja.

Agrowisata Bhumi Merapi: Wisata Edukasi Ramah Alam

Sebenarnya sudah sejak akhir tahun lalu kami berkunjung kesini, tapi seperti yang sudah-sudah, niat menuliskannya di blog ya tetap cuma jadi niat tanpa pernah berwujud, akhirnya tertimbun foto dan niat menulis lainnya, mungkin karena kami terlalu sering piknik *eh *mintaditoyoribukibukbutuhpiknik

Dan kemarin, setelah teman-teman di WAG KEB Jogja pamer tulisan mereka tentang tempat wisata yang sedang happening ini, saya baru sadar kalau saya nggak punya sesuatu yang sama untuk dipamerkan *emakkompetitif

Agrowisata Bhumi Merapi, dari namanya sudah terbayang kalau tempat wisata ini bertema peternakan, pertanian, ramah alam, dan terletak nggak jauh dari Merapi. Lokasinya memang di lereng Merapi, tepatnya di dusun Sawungan, Hargobinangun, Pakem, Sleman, atau di Jalan Kaliurang KM 20, nggak susah sama sekali kok menemukan tempat ini, asal sudah sampai di Jalan Kaliurang, urut saja terus sampai di KM.20, nanti ada plang penunjuk jalan ke arah gerbang masuk Bhumi Merapi di belakang balai desa Hargobinangun.
Pemandangan saat memasuki gerbang sangat menarik, hijau segar berlatar Gunung Merapi, ada barisan kuda poni di depan pintu masuk menunggu pengunjung yang ingin menyewa mereka.

Tiket masuknya Rp.10.000,- saja, tambah Rp. 10.000,- lagi kalau mau menyewa kuda poninya. Tapi saya cemen, nggak tega lihat kuda unyu-unyu begitu ditunggangi, jadi saya nggak bolehkan anak-anak menyewanya, cukup dielus-elus saja 😀

Dari brosur yang saya dapat di loket registrasi dijelaskan kalau Bhumi Merapi bukan hanya menyediakan tempat wisata, tapi juga tempat outbond lengkap dengan perkemahannya. Disediakan pula pelatihan ternak kelinci, kambing, dan hidroponik. Peserta akan dibimbing sampai bisa dan Bhumi Merapi bersedia menerima hasil dari pelatihan budidaya itu.



Taman Kelinci 

Selesai urusan bayar membayar kami langsung menuju Taman Kelinci. Jenis ras kelinci yang dipelihara di sini lumayan lengkap, seperti rex, anggora, dutch, new zaeland, loop, dwarf, dan masih banyak lagi. Beberapa ada yang boleh di beli. Saya langsung naksir dengan seekor dutch gendut berwarna hitam putih dan mengirim kode keras ke suami supaya dia segera menawar, tapi ternyata Dutch yang saya taksir itu adalah sang langganan juara lomba, nggak dijual buk! Hahaa pantesan ganteng banget.

Rumahnya kelinci-kelinci lucu

Selain kelinci-kelinci yang di kandang, ada beberapa ekor yang dilepas agar pengunjung bisa puas membelainya, tapi lagi-lagi kok saya nggak tega, karena ada beberapa anak yang bernafsu sekali membelai, tepatnya sih meremas. Dan orang tuanya malah tertawa-tawa melihat anak mereka ‘membelai’ si kelinci dengan kekuatan penuh, bahkan ada anak yang melepaskan si kelinci begitu saja dari gendongan sampai jatuh ke tanah, duuh buuuk.. 😦 

Kelincinya jinak sekali


Taman Kambing Perah 

Karena langit sudah mulai mendung, kami nggak berlama-lama di taman kelinci. Langkah kami selanjutnya menuju Taman Kambing Perah, kambing yang dibudidayakan di sini adalah peranakan Ettawa dan Sanen. Ada beberapa aktifitas yang bisa kita lakukan saat di taman kambing ini seperti memberi makan kambing, memberi susu kepada anak kambing menggunakan botol, dan membantu memerah susu kambing. Namun kami nggak melakukan satu pun aktifitas seru itu karena bau! hahaaah payah yaa..

Kandang bersih sekali lho..


Selepas meninggalkan Taman Kambing kami berputar lagi menuju Taman Reptil dan Taman Hidroponik, tapi titik air yang mulai berjatuhan membuat kami memilih berhenti untuk menepi di saung terdekat.

Taman hidroponik yang bikin penasaran

Hujan deras mengguyur dan kami terjebak di saung, sebetulnya asik sekali di dalam situ asalkan ada makanan, tapi kami malah meninggalkan ransum kami di mobil, huhuhuuuuuu :'(((((

Besok lagi duduk sini sambil bawa nasi panas, ayam bakar, plus sambal tomat 🙂

Alhamdulillah petugas Bhumi Merapi sangat sigap dan kooperatif, mereka menjemput para pengunjung yang terjebak di tiap-tiap saung dengan payung secara bergiliran, kami bisa memilih mau diantar ke pondok di sebelah pintu masuk atau langsung ke mobil saja, dan ketika kami berinisiatif memberikan tip, mereka menolak dengan ramah, salut!

Nggak menyesal bawa anak-anak ke sini, yang saya sesali justru karena kami datang kesiangan padahal sudah hapal kalau hujan selalu menyiram Jogja di siang hari. Sesegera mungkin kembali ke sini lagi ah, dengan perbekalan yang banyak untuk kami nikmati di saung 🙂

Top Selfie Pinusan Kragilan: Surganya Pecandu Selfie

Selama ini kita mengenal bermacam jenis wisata seperti wisata kuliner, wisata alam, wisata museum, wisata candi, dan sebagainya. Tapi tahu nggak sekarang ada jenis wisata baru bernama wisata selfie? 

Hehee lucu yaa.

Jadi wisata selfie ini maksudnya untuk menyebut tempat-tempat wisata yang jika dipandang mata terkesan biasa tapi memiliki beberapa spot bagus untuk berfoto, nah spot ini nanti yang bakal jadi cantik setelah masuk kamera, dengan catatan si juru foto memiliki skill dan feel fotografi yang lumayan agar mampu membuat tempat ini kelihatan lebih indah di foto, singkatnya: Instagramable! 

Yang masuk dalam wisata selfie ini misalnya Kalibiru (Iya buat saya Kalibiru baru kece setelah berbentuk JPEG), Pantai Goa Cemara, dan yang baru saja kami kunjungi: Hutan Pinus Kragilan di Magelang yang lebih terkenal dengan nama Top Selfie Pinusan Kragilan.

Hutan pinus kragilan ini sebenarnya biasa saja, pun nggak seluas hutan pinus mangunan, tapi udaranya lebih dingin karena terletak di dataran tinggi lereng Gunung Merbabu, jadi nggak heran kalau sepanjang jalan menuju ke Top Selfie Pinusan kita bakal disuguhi pemandangan cantik dari Merbabu dan Merapi dengan hamparan kota Magelang di bawahnya.

Pemandangan menuju Top Selfie

Top Selfie Pinusan berlokasi di Dusun Kragilan, Desa Pogalan, Kecamatan Pakis yang merupakan kecamatan paling ujung dari Kabupaten Magelang. Kita bisa melewati 3  jalur alternatif untuk sampai ke sini:

1. Jalur Blabak

Dari Muntilan masuk ke Blabak sampai Ketep lalu ambil jalur kearah Kopeng. Top selfie pinusan terletak kurang lebih  4 km dari Gardu Pandang Ketep Pass, disebelah kiri jalan.

 Menyebut Ketep Pass, kalau kita punya banyak waktu sebaiknya mampir dulu ke sini, kita bisa menikmati kegagahan Merapi dari gardu pandangnya. Disekitar Ketep Pass juga banyak kebun strawberry yang membolehkan kita memetik sendiri buahnya, mirip di Lembang gitu deh. 

2. Jalur Kopeng

Kalau kita dari Kopeng ambil jalur kearah Ketep, setelah memasuki daerah Kaponan gapura Top Selfie akan terlihat di kanan jalan.

3. Jalur Candimulyo

Dari arah Candimulyo menuju Kaponan kita akan menemukan pertigaan jalur Kopeng – Ketep, lalu ambil arah kiri dan nanti gapura Top Selfie akan kelihatan di kiri jalan.

Masih bingung juga? Buka Waze atau Google Maps dong ah 😀

Nama Top Selfie konon di cetuskan oleh warga sekitar Kragilan sendiri. Warga Kragilan juga yang mengembangkan, mengelola, dan mempromosikan tempat ini hingga menjadi booming seperti sekarang. 

Mereka menyediakan banyak spot keren untuk berfoto. Spot yang paling diburu pengunjung adalah jalan turun selepas pintu masuk menuju parkiran dengan jajaran pohon pinus di sisi kiri dan kanan jalan. 

Ada juga ayunan kayu berlatar latar rimbunnya hutan dan beberapa panggung bambu yang bisa kita pakai selfie atau wefie sampai kemeng.

ayunan kayu diantara rerimbunan pohon
panggung bambu tempat selfie
 
berlatar kebun sayur di sekitar hutan pinus
 
Banyak juga pasangan yang memilih tempat ini untuk foto prewed mereka, dalam satu minggu rata-rata ada tiga pasangan yang berfoto di sini.

Seperti kebanyakan tempat wisata, datang ke sini saat weekend mirip kalau kita mengunjungi pasar malam, bejubel! 

Padahal yang namanya hutan itu kan identik dengan suasana yang sepi, nah gimana bisa dapat foto dengan suasana hutan syahdu kalau backgroundnya pasar malam? Di sinilah kemampuan kita mengambil angle foto diuji, makanya disebut wisata selfie 😀

Dibuka mulai pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB pengunjung hanya perlu membayar Rp.10.000,00 jika membawa mobil dan Rp.3.000,00 jika membawa motor. Selain berburu foto kita juga bisa melakukan kegiatan Flying Fox hanya dengan tarif Rp.10.000,00.

Fasilitas di sini sudah lumayan lengkap dan bersih, ada toilet, tempat sampah, dan beberapa warung makan. Tempat parkir pun sudah dikelola dengan sangat baik oleh warga sekitar hanya dengan tarif seikhlasnya. 

#eh
 
Oh ya, sebelum berangkat pastikan dulu kendaraan kita ada dalam kondisi terbaiknya ya, karena walaupun jalur yang ditempuh nggak ada apa-apanya dibanding Kalibiru tapi tetap ada tanjakan yang lumayan bikin deg-degan.


Selamat piknik temans, selalu jaga kebersihan dan hormati alam yaa 🙂

Lactacyd® Liquid Baby: Sahabat Kulit Lembut Si Kecil

​Punya dua anak laki-laki balita di musim liburan seperti sekarang ini benar-benar menguras energi dan (kadang) emosi saya, bayangkan saja, dalam sehari mereka bisa mandi 5-6 kali karena badannya selalu penuh dengan pasir, lumpur, bahkan semen dari proyek pembangunan rumah di depan rumah kami, Arka malah pernah pulang sambil basah kuyup, katanya kecemplung di sungai samping rumah, duuuh.. -__-
Selain cucian yang jadi menumpuk, saya juga khawatir dengan kesehatan kulit mereka kalau terus-terusan terpapar pasir dan lumpur, apalagi kulit bayi dan anak-anak kan cenderung memiliki pH 6-7, sedikit lebih tinggi dari pH kulit orang dewasa, membuat kulit mereka lebih sensitif dan rentan diserang kuman. Itu sebabnya saya selalu berusaha menjaga kesehatan kulit mereka dengan produk perawatan yang bisa digunakan sehari-hari, artinya produk itu harus ramah di kulit, bisa mencegah pertumbuhan bakteri, meredakan iritasi dan gatal, sekaligus melembabkan. Untungnya saya selalu bisa mengandalkan kesehatan kulit anak-anak satu produk perawatan kulit khusus bayi dan anak, produk ini selain mudah didapatkan di apotik dan supermarket, harganya juga cukup terjangkau.
Eh, sebelum membicarakan si produk andalan ini, boleh ya saya flashback sebentar, jadi waktu Arka berumur 1 minggu, dia sempat mengalami alergi ASI akibat makanan yang saya konsumsi, kulit pipinya merah dan menebal, dibeberapa bagian malah ada yang nyaris melepuh. Selain menyarankan diet beberapa jenis makanan, DSA kami meresepkan Lactacyd Liquid Baby sebagai satu-satunya obat luar, botolnya kecil dengan tutup yang sangat mudah dibuka tapi juga rapat dan nggak gampang tumpah, isinya bening pekat, dan wanginya hhmm enaaaak bangeeeet, cara pemakaiannya pun nggak merepotkan, cukup membasahi kapas dengan 2-3 tetes Lactacyd Baby lalu ditepuk-tepuk lembut di bagian yang teriritasi, ternyata dalam waktu 3 hari saja kemerahan di pipi Arka berangsur membaik, yeaay..
Sejak itu saya jatuh hati pada Lactacyd Liquid Baby, terlebih lagi setelah mengetahui manfaat dari dua bahan aktif utama yang terkandung di dalamnya sangat baik untuk membantu merawat kulit bayi dan anak-anak.

Pertama, Lactoserum dan Lactic Acid, merupakan bahan alami yang didapat dari ekstrak susu, berfungsi untuk mengangkat sel-sel kulit mati, mencegah pertumbuhan bakteri jahat, dan melembabkan kulit. Ingat kan penjelasan saya diatas tentang pH bayi yang lebih tinggi dari pH orang dewasa? Nah kandungan Lactoserum dan lactic acid pada Lactacyd Liquid Baby memiliki pH 3-4 sehingga mampu menurunkan kadar pH pada kulit bayi dan anak, membuatnya lebih tahan pada serangan kuman.

Kedua, Hydrogen Peanut Oil, berupa minyak alami yang sangat baik untuk melembabkan dan memberikan nutrisi pada kulit, mampu mencegah kekeringan dan kulit bersisik.

Melihat kandungan alami dan manfaatnya, nggak salah kan kalau saya selalu mempercayakan perawatan kulit anak-anak saya pada si botol imut-imut kebiruan ini. Selain sebagai perawatan untuk masalah kulit ringan, sudah seringkali anak-anak saya terselamatkan dari masalah kulit berat dengan bantuan Lactacyd Liquid Baby.

Diumur 1 tahun Arka pernah terkena flu singapura, bintik-bintik merah meraja di seluruh tangan dan kakinya, membuat dia nggak berhenti menggaruk akibat rasa gatalnya. Karena flu singapura diakibatkan oleh virus kami nggak memberikan obat apapun selain paracetamol sebagai pereda demam, dan untuk mengurangi rasa gatal di kulitnya, saya ajak dia berendam di dalam air hangat yang sudah dicampur 3 sendok teh Lactacyd Liquid Baby, sangat membantu membuat dia lebih nyaman bertahan dari rasa gatalnya sampai virus flu singapura itu pergi.

Lain kakak, lain lagi cerita si adik. Diusia 3 bulan Raya sempat terserang penyakit yang membuat dia harus melewati 4 minggu di rumah sakit, selama itu pula Raya nggak bisa lepas dari diapers, walaupun saya selalu berusaha disiplin mengganti diapersnya setiap 4 jam dan membilas kulitnya setiap akan berganti diapers, tetap saja kulit di area diapers tidak terbebas dari ruam, awalnya ringan tapi lama kelamaan makin melebar. Teringat dengan pengalaman iritasi kulit Arka yang bisa sembuh dengan Lactacyd Baby, saya coba juga cara ini untuk menyembuhkan ruam popok Raya, dan ternyata benar, 2 hari setelah ruamnya saya oles dengan kapas yang dibahasi Lactacyd Baby, ruam popok Raya perlahan menghilang, kulit di area diapersnya kembali sehat dan lembab.

Terakhir (dan yang paling lucu juga), kira-kira 2 bulan kemarin, Raya menangkap ulat bulu besar untuk dibuat main masak-masakan, hahahaa.. hasilnya jelas bisa ditebak, nggak sampai 1 jam sebagian kulit tangan dan wajahnya memerah dan bengkak mirip korban tawuran 😀

Untuk mengatasi alergi, bengkak, dan meredakan rasa panas di kulitnya saya minumkan sirup cetirizine dan paracetamol. Keesokan pagi baru saya mandikan dia dengan memakai Lactacyd Baby sebagai pengganti sabun mandi untuk mengurangi gatal-gatal di tangan dan wajahnya. Saya juga mengolesi bengkak di wajah dan tangannya dengan kapas yang sudah dibasahi tetesan Lactacyd Baby, walaupun tidak langsung menghilangkan rasa gatalnya tapi Alhamdulillah rewelnya berkurang setiap selesai dioles.

Itu baru sebagian masalah kulit yang mampir menyerang anak-anak saya, belum lagi masalah dengan si biang keringat yang rajin sekali berkunjung. Maklum saja, kami tinggal di Jogja yang suhu udaranya lumayan tinggi, belum lagi kalau mendadak mati listrik di siang bolong, tanpa kipas angin dan AC, dahi, leher, dan punggung mereka langsung dipenuhi bintik-bintik merah dan gatal, karena gatal akhirnya digaruk, karena digaruk akhirnya luka, karena luka akhirnya perih, karena perih akhirnya rewel, huhuhuuu..

Sumber: FP Lactacyd Baby
Sumber: FP Lactacyd Baby

Kalau sudah begitu biasanya anak-anak sudah hapal, mereka langsung mengambil Lactacyd Baby dari lemari obat dan memakainya untuk mandi berendam, jika nggak diawasi, bisa satu botol mereka habiskan untuk sabunan dan dituang di dalam bak *__*

Lactacyd Baby sahabat kulitku 🙂

Pemakaian Lactacyd Baby ini memang bisa dengan berbagai cara tergantung berat ringannya masalah kulit yang sedang dialami, misalnya saja:

1. Untuk perawatan setiap hari, pada bayi: Larutkan 2-3 sendok teh Lactacyd Baby pada bak mandi si kecil, lalu mandikan seperti biasa. Pada anak: Gunakan seperti memakai sabun cair lalu bilas dengan air bersih.

2. Untuk merawat kulit iritasi atau alergi, basahi kapas lembut dengan Lactacyd Baby lalu usapkan di area kulit yang mengalami iritasi atau alergi.

3. Untuk merawat kulit kepala, gunakan seperti shampoo pada umumnya, teteskan sedikit di telapak tangan, basahi dengan air dan usap lembut pada rambut dan kulit kepala si kecil lalu bilas sampai bersih.

Gampang kan cara pakainya? Yang penting jangan lupa dikocok dulu setiap akan digunakan. Oh ya, Lactacyd Baby ini aman di kulit bayi dan anak karena menggunakan sangat sedikit Sodium Methyl Paraben sebagai bahan pengawet sabun dan shampoo, benar-benar produk skin care yang membebaskan saya dari kekhawatiran akan kesehatan kulit anak-anak, makanya saya sering biarkan saja mereka bermain pasir atau tanah di halaman, kalau soal cucian baju yang menggunung sih tinggal angkut ke laundry hihihii..

Hadiah Impian Untuk Suami

Tanggal 9 Juni kemarin suami saya baru saja melewati pertambahan usianya, sudah lewat memang, tapi sampai sekarang saya belum juga memberikan dia sesuatu sebagai kado, walau suami nggak pernah meminta (karena dia tahu duit dia juga yang dipakai untuk beli 😀 ) tapi buat kami merayakan ulang tahun tanpa kado seperti sayur asem tanpa potongan jagung manis 😀

Sempat membayangkan beberapa barang yang akan saya beli sebagai kado tapi belum ada yang sreg, sebenarnya isi dompet saya yang nggak pernah sreg hehee.. Mau kasih baju, tapi baju-baju dia lebih banyak dari saya, sepatu apalagi, perbandingannya 1:5 lah, saya satu, dia yang lima -_-

Lalu terpikir sebuah jam tangan karena sudah beberapa kali dia punya jam tangan dengan kualitas yang nggak bisa disebut ecek-ecek, tapi selalu berakhir dengan basah karena kehujanan waktu dibawa naik motor atau hilang karena talinya mendadak putus di tengah party (sapa suruh party? 😀 )

Setelah browsing beberapa merk dan model jam tangan, saya jatuh hati dengan jam tangan Expedition tipe 6603M yang terlihat sangat sporty. Jam tangan Expedition yang dulunya bernama Swiss Expedition ini memang dirancang oleh para ahli profesional dengan kualitas premium khusus untuk mereka yang berjiwa petualang. Tampilannya sangat outdoor dan macho, cocok sebagai teman mendaki gunung, tracking, reli, bahkan menyelam. Walaupun suami saya nggak memiliki satupun hobi bertualang (duh) tapi aktivitas keseharian dan sifatnya yang pelupa membuat dia wajib punya jam tangan yang sanggup bertahan di segala kondisi.

image
Jam tangan Expedition 6603M ini yang lagi saya incar

Lebih lanjut, jam tangan Expedition original ini terbuat dari plat baja stainless terbaik yang dapat melindungi mesin nya dengan sempurna, membuatnya lebih tahan banting, termasuk tahan air, tahan debu, anti korosif, anti kelupas, dan masih banyak lagi. Pada proses pembuatannya jam tangan Expedition original sudah melalui serangkaian tes yang dilakukan oleh penyelam, pembalap, dan pendaki gunung sehingga semua fitur-fiturnya pun bisa dipastikan dapat berfungsi dengan baik sesuai kebutuhan saat bertualang di medan berat. Beberapa tipenya bahkan bisa bertahan di air hingga kedalaman 50 meter, memiliki jarum penunjuk dengan lumibrite atau pendar cahaya, serta lampu yang bisa dihidupkan pada kondisi gelap.

Eh iya, konon pemilik saham Expedition terbesar adalah orang Indonesia dan sebagian produknya dirakit di Indonesia, jadi bolehlah kita berbangga menggunakan jam tangan premium hasil rakitan anak bangsa ini.

Masalahnya dengan kualitas dan fitur yang premium itu, harga jam tangan Expedition juga jadi premium, makanya saya baru bisa sebatas bermimpi menghadiahi si cinta jam tangan Expedition ini. Bisa sih kalau mau cari yang murah, tapi jelas KW, hehee.. Padahal dengan selisih harga yang tidak seberapa, kualitas yang kita dapatkan akan sangat jauh berbeda.
Untuk mengetahui keaslian jam tangan Expedition ini pastikan di dalam kardusnya terdapat kartu garansi berstempel toko penjual dan dilengkapi buku manual berupa cetakan, bukan fotokopian.

Tapi kan saya orangnya paling malas disuruh ke toko pilih-pilih barang, lebih suka tinggal klak klik klak klik di depan laptop lalu barang datang, padahal untuk pembelian barang elektronik kebiasaan saya itu cukup riskan yaa. Makanya demi bisa membeli jam tangan Expedition impian ini saya rajin memantau program promo dari MatahariMall untuk mendapatkan harga jam tangan Expedition yang lebih murah dengan keaslian kualitas yang nggak perlu diragukan lagi, apalagi MatahariMall juga memberikan garansi selama 1 tahun dan diskon mencapai 70% untuk beberapa tipe jam tangan Expedition tertentu. Bikin makin mupeng deh..

Semoga secepatnya saya bisa menghadiahi suami jam tangan keren ini yaa, walaupun bukan di momen ulang tahunnya, mungkin bisa kesampaian di momen Idul Fitri ini.

Eh, buat yang naksir juga dan pingin ngintip bocoran harga jam tangan Expedition bisa langsung cek ke websitenya MatahariMall.com yaa..

My Scrap Book, Tentang Cerita Cinta, Hidup, dan Harapan Seorang Asri Rahayu

image

Pernah gak sih galau di toko buku pingin beli karena naksir cover dan nama penulisnya tapi ragu-ragu sama isinya? Aku sering, hihihii..

Tapi seiring makin lebarnya akses informasi, tinggal buka google lalu ketik judul buku dan nama penulisnya, dan jreeeng.. ada saja satu dua sinopsis tentang buku tersebut, apalagi kalau bukunya termasuk kategori best seller, bisa sampai dua halaman google search penuh dengan informasi mengenai si buku, jadi kita nggak perlu menggalau lama-lama di depan rak. Saran aku, pilih tulisan yang bersumber dari blog pribadi, isi sinopsisnya akan lebih jujur sesuai dengan isi hati penulis dan tingkat kebaperan terhadap jalan cerita

Misalnya seperti temanku di komunitas KEB, Asri Rahayu kecintaannya terhadap buku terutama novel-novel roman membuat dia mantap menjadi seorang blogger buku. Eh, nggak gampang lho menjadi blogger buku, harus punya waktu untuk membaca bukunya dengan tenang, meresapi alur ceritanya, dan punya waktu juga untuk menulis ulang.. coba aja baca tulisannya Asri di My Scrap Book atau Peek The Book akan kelihatan banget kalau seorang Asri sangat menghayati buku yang dibaca, tutur kalimatnya ringan dan enak diikuti, padahal nggak semua buku-buku yang dibacanya itu adalah pemberian penulis atau penerbitnya, ada juga yang memang dibeli sendiri.

Oya, selain buku, ada lagi yang nggak pernah bisa aku lupa kalau lagi sebut nama Asri, pertemuan pertama kami yang membekas banget buat aku!

Jadi kami ketemuannya di pinggir jalan raya waktu janjian mau datang ke Arisan Ilmu pertama, mirip-mirip blind date gitu hihihiii.. Terus waktu kami pulang berbarengan dengan massa si partai hejo yang lagi merayakan haul partainya dengan menguasai semua sudut jalanan Jogja, ampuuuun.. bayangin dari seturan kami bisa terdampar sampai Jl. Imogiri karena nggak bisa lewat rute yang biasanya.. Persis petualangan Paddle Pop menembus labirin penyihir yaa mak As? 😀 😀

Baiklah, udah kejauhan ngelanturnya, sampe bawa-bawa Paddle Pop segala.. Semoga Asri bisa makin sukses berkarya sebagai perempuan pekerja dan sebagai blogger,jangan pernah bosan berbagi review yaa dear 🙂

image

Banana Milky Muffin

image

Banana Milky Muffin ini selalu jadi resep andalanku buat ngebujuk anak-anak kalau lagi susah makan, disamping kandungan bahannya yang full energi, anak-anak pasti doyan karena rasanya pisang dan susu bangeet.. bikinnya gampil pula..

image

Hasilnya nanti berpori besar tapi lembut, empuk, dan gak seret, makanya Raya yang belum bergigi pun lancar jaya aja ngunyahnya 😀

Ingredients
3 buah pisang ambon ukuran besar, pilih yang matang (bukan kematangan yaa..) dan wangi
200 gr white chocolate (aku pakai Colata), serut halus
1/4 cup butter (aku pakai elle n vire)
1 butir telur antero
1 cup terigu all purpose
1 1/2 sdt double acting baking powder

How To
1. Lumatkan pisang dengan garpu, sisihkan.
2. Tim butter sampai meleleh, setelah meleleh masukkan white choc serut dan aduk cepat hingga seluruh white choc lumer dan menyatu dengan butter, sisihkan.
3. Mix telur dengan kecepatan tinggi selama 3 menit.
4. Pelan-pelan masukkan adonan butter disusul dengan pisang sambil tetap di mix sampai tercampur rata.
5. Turunkan kecepatan sampai yang terendah, masukkan tepung dan baking powder, setelah semua tepung masuk matikan mixer lalu lanjutkan mengaduk dengan spatula, tidak perlu mengaduk terlalu lama karena bisa menyebabkan muffin bantat.
6. Tuang dalam loyang muffin yang sudah diberi papercase, isi sebanyak 3/4 dari tinggi lubang loyang saja.
7. Panggang selama 15 menit dengan suhu 180 derajat.

image

Triple Choco Brownies Sungai Chocolatoz

image

Namanya panjang amat yak? 😀 😀
Biasanya sering disingkat jadi Brownies Sungai karena tekstur dipermukaannya yang mirip sungai coklat. Menurut si empunya resep Ummu Allegra tekstur seksi nan elegan ini gak sengaja beliau dapat ketika menambahkan sisa lelehan dcc ke atas adonan yang sudah siap masuk oven, berharap si dcc ini akan menyatu dengan adonan eh lha kok malah membentuk tekstur kece ini 😀

Kali ini yang aku tiru cuma tekstur sungai coklatnya aja, untuk browniesnya sendiri tetap pakai resep yang biasa aku pakai, bukannya apa.. males cari-cari resep brownies sungai ini di filenya NCC hihihiiii..

Bahan A

1 cup tepung terigu (aku pakai segitiga biru)
1/4 cup cocoa powder (aku mix van houten dan tulip noir dengan komposisi 50-50)
1/4 sdt garam
1/4 sdt baking powder

Campur dan ayak semua bahan, sisihkan.

Bahan B

2 butir telur ayam
1 1/4 cup gula halus (dari gula pasir yang diblender)
1/4 cup unsalted butter
150 gr dark chocolate compound
50 gr dark chocolate compound untuk tekstur aliran sungainya
1 sdt pasta vanila

How To
1. Preheat oven disuhu 190 derajat.
2. Tim butter dan dcc sampai meleleh rata.
3. Kocok telur dan gula dengan whisker sampai gula larut, lalu tuang butter+dcc secara perlahan sambil terus diaduk.
4. Masukkan bahan A, aduk sampai semua tercampur.
5. Tuang adonan dalam loyang 20 x 20 cm yang sudah dialasi kertas roti.
6. Tim 50 gr dcc hingga meleleh lalu tuang pelan-pelan di atas adonan membentuk tekstur aliran sungai, taburkan chocochips setelahnya.
7. Panggang di suhu 180 derajat dengan api atas bawah selama 15-20 menit.
8. Setelah matang, biarkan dingin dulu sebelum dikeluarkan dari oven supaya shiny crustnya tidak retak.

Panggang di oven dengan api atas bawah suhu 190 derajat celcius selama 15-20 menit.

Martabak Kubang

image

Dulu (dulu bangeeet..) waktu masih tinggal di Bekasi hampir tiap dua hari sekali aku jajan martabak telur yang dijualnya pake gerobak di pinggir jalan.

Biasanya aku beli tiap pulang kuliah atau kerja, kebetulan si abang parkir gerobaknya pas di depan gang rumahku, nah godaan banget kaan.. baru turun dari angkot langsung nyium bau martabak yang lagi di bolak balik di atas penggorengan, terus bayangin si martabak yang masih panas kemepul ini dicelup ke dalam sausnya (apa ya namanya? cuko?), makannya sambil ditiup-tiup bareng sama gigit rawit dan acar timun, uwooooh..

Sayang, begitu pindah ke Jogja gak ada lagi tukang martabak yang menyediakan saus cuko, acarnya pun cuma timun iris, gak ada rasa asemnya.. ya emang sih, lain ladang lain belalang, tapi kan si belalang bisa disuruh piknik biar tau rasanya martabak celup saus! *maksa*

Jadi demi bisa makan martabak celup a.k.a martabak kubang terpaksa deh masuk dapur -__-
Sempat puyeng duluan gimana caranya bikin kulit lebar tipis nan lentur itu, kursus muter-muterin kulit gitu dimana sih? Sampe akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba (artinya?), di salah satu episode Masterchef Indonesia ada challenge bikin martabak telur termasuk juga cara bikin kulitnya yang melar-melar gitu, yaak.. cobain ah!
Tapi karena resepnya gak di share dan aku juga terlalu malas untuk browsing jadi mari kita keluarin jurus andalan ‘kira-kira’

image

Langkah 1: Kulit
1 cup tepung terigu
1/3 cup air bersih
1/4 sdt garam halus

1. Campur semua bahan,  uleni sampai adonan tidak lengket di tangan.
2. Setelah adonan kalis, bentuk seperti bola lalu masukkan dalam wadah bersih yang sudah berisi minyak goreng, pastikan adonan terendam sempurna selama minimal 1 jam.

Langkah 2: Isi

50 gr daging kambing, cincang
3 buah jamur kancing segar, cincang
2 siung bawang putih, cincang
1 sdm kecap manis
1 sdm kecap asin
1 sdt kecap inggris
1/2 sdt merica bubuk
1/4 cup air bersih

1. Tumis bawang putih sampai wangi, tambahkan air bersih.
2. Masukkan daging kambing, masak dengan api kecil sampai air tersisa kira-kira 1/8.
3. Tambahkan kecap manis,  kecap asin, kecap inggris, dan merica bubuk, aduk sampai semua kecap meresap. Sisihkan

3 butir telur bebek, kocok lepas
4 batang bawang daun, iris
1/2 buah bawang bombay, iris
2 batang seledri, iris
1/2 sdt garam halus

Aduk rata semua bahan dan tumisan kambing, sisihkan.

Langkah III

1. Angkat adonan kulit dari dalam minyak, tiriskan. Letakkan di atas permukaan yang rata dan lebar, tekan-tekan sambil dipipihkan, setelah cukup pipih baru digilas sampai lebar dan tipis.
2. Panaskan (pakai api kecil) sedikit minyak dalam wajan lebar yang memiliki permukaan rata (aku pakai teflon), letakkan kulit tepat di tengah wajan tapi gantungkan pinggiran kulit di tepi wajan, jaga supaya tidak masuk ke dalam wajan.
3. Masukkan adonan telur dan ratakan di tengah permukaan kulit, pelan-pelan lipat pinggir kulit satu persatu hingga menjadi persegi empat.
4. Setelah terbentuk rapih tambahkan minyak goreng sedikit demi sedikit ke dalam wajan sampai martabak terendam separuh, tetap goreng dengan api kecil supaya telur matang sempurna dan kulitnya renyah, jangan lupa intip bagian bawahnya untuk melihat sudah gosong atau belum, kalau sudah ada gosong sedikit (itu yang enak!) silahkan di balik 🙂

Lava Cake Anti Gagal

Hari kedua puasa pas hari minggu, mau bikin takjil ala bule sesuai request suami.. yang nyoklat dan anget-anget, langsung kepikiran Lava Cake a.k.a Volcano Cake a.k.a Molten Cake yang anget dengan coklat meleleh-leleh gak karuan itu, aaawh.. :*

image

Resepnya aku adaptasi dari blognya Mbak Ayudiah Respatih di momylicious.com, aku modif lagi karena aku cuma mau bikin sedikit aja.

Ini versi aku:

Bahan-Bahan

150 gr Dark Compound Chocolate (kalau pakai Colatta yang kemasan 250 gr, kira-kira pakai 3 kotak)
1/2 cup Salted Butter (aku mix elle & vire dengan palmia royal)
3 butir telur ayam
1/2 cup gula castor (ndak suka manis 🙂 )
1 cup terigu all purpose
1/8 cup cocoa powder
2 sdm sirup vanilla

Cara Membuat

1. Siapkan loyang alumunium berbentuk cup, oles permukaannya dengan butter dan taburi dengan cocoa powder sampai tertutup rata. Simpan dalam freezer.

2. Tim DCC dan butter dengan metode double boiler, matikan api sebelum timbul buih lalu aduk rata sampai coklat meleleh dan tercampur rata dengan butter, biarkan dingin.

2. Mix telur dan gula dengan kecepatan tinggi sampai adonan berwarna pucat dan mengental, kurang lebih 3 menit. Masukkan adonan coklat, cukup mix sampai tercampur rata saja, gak perlu lama-lama.

3. Turunkan kecepatan mixer ke yang paljng rendah lalu masukkan terigu dan cocoa powder sambil diayak. Masukkan sirup vanilla. Matikan mixer setelah semua tercampur rata.

4. Tuang adonan ke dalam alumunium cup yang sudah disiapkan tadi, simpan lagi dalam freezer. Tunggu adonan agak mengeras kira-kira 1-2 jam.

image

5. Panaskan oven di suhu 190 derajat celcius selama 8-10 menit. Setelah oven cukup panas masukkan adonan yang masih dalam keadaan beku, oven selama 10 menit (masing-masing oven bisa berbeda ya.. jadi kuncinya: kenali ovenmu dan bersahabat lah sebaik-baiknya 🙂 )

6. Setelah 10 menit, dilihat pinggirnya, kalau sudah mengeras dan bisa dilepas berarti sudah bisa diangkat.

Oya, adonan ini bisa tahan 3 hari di dalam freezer, jadi kalau besok masih kepingin makan tinggal ngoven lagi aja 😉

The Famous Pennylane Brownies

image

Lagi-lagi brownies, karena kami sekeluarga memang fans brownies garis keras, apalagi yang chewy dan super nyoklat 🙂

Sekarang giliran nyoba resep Pennylane Brownies yang legendaris di jagad foodblogger, konon rasanya gak beda dengan brownies yang pakai dcc, padahal ini cuma pakai cocoa powder dan minyak goreng.

Aku agak kesulitan nyari resep yang pas karena tiap blog pasti ada aja bedanya, ngintip blognya Mba Riana si pemilik asli resep ini gak nampak pun resepnya, akhirnya aku kumpulin aja resep-resep yang ada terus ambil garis besarnya (kaya bikin rangkuman jaman sekulah aja 😀 )

Ini hasilnya utak atikku, seperti biasa aku konversi dulu ke dalam ukuran cup dan spoon 🙂

Siapkan 2 buah loyang ukuran 24x10cm, alasi dengan kertas roti.

image

Panaskan oven di suhu 190 derajat celcius, biarkan panas sambil membuat adonannya.

Bahan A

1 cup tepung terigu (aku pakai segitiga biru)
1/4 cup cocoa powder (aku pakai van houten)
1/4 sdt garam
1/4 sdt baking powder

Campur dan ayak semua bahan, sisihkan.

Bahan B

2 butir telur ayam
1 1/2 cup gula halus (dari gula pasir yang diblender)
1/2 cup minyak goreng
Optional:
1 sdt pasta coklat
1 sdt pasta vanilla
1 sdt pasta rhum (aku pakai toffico)
2 sdm choco chips

Kocok telur dan gula dengan whisker sampai gula larut.
Masukkan bahan A, aduk sampai semua tercampur.
Tuang minyak goreng, pasta vanilla dan pasta rhum, aduk sampai benar-benar rata.
Terakhir masukkan choco chips dan ratakan dalam adonan.
Tuang ke dalam loyang, beri topping sesuai selera, untuk kali ini aku pakai oreo strawberry hasil membajak isi goodie bag ultah temannya Arka 😀
Panggang di oven dengan api atas bawah suhu 190 derajat celcius selama 15-20 menit.

Hasilnya gak beda dengan yang pakai dcc, chewy, legit, nyoklat lengkap dengan shiny crust yang kincloooong..

Thx yah Mba Riana, yang punya resep asli Pennylane Brownies ini 🙂

Banana Egg Tart

image

Punya dua anak yang super doyan pisang itu bisa jadi berkah sekaligus tantangan.
Berkahnya, tiap hari dikasih sarapan pisang belum pernah nolak, gampang kan? Anak kenyang, emak senang 😀
Tantangannya, tega amat sih mak tiap hari pisang lagi pisang lagi..
Makanya aku sering banget browsing dan nyoba resep-resep pisang, mulai dari smoothies, pisang goreng, cake pisang biasa, puding, brownies, muffin, roti unyil, endesbre endesbre…
Kemarin aku ngintip pinterest dan nemu banana pie, sayang resepnya gak sekalian dicantumin disitu, cuma ada link ke blog si empunya resep, tapi dari photonya aja udah kebayang sih bakal aku apain si pie pisang nan kece itu..

Crust dan fillingnya aku bikin kaya egg tart yang udah banyak beredar di internet, kebeneran udah beberapa kali bikin jadi ga pusing lagi browsing resep.

Hasilnya.. ternyata pisang yang ngumpet di dalam filling itu rasanya enyaaaakk…

image

Yawis lah, nih aku tulis resepnya

Bahan Filling
4 buah pisang raja ukuran sedang, iris setebal 2 cm
3 butir telur ayam ukuran besar
200 ml susu cair plain (UHT/Pasteurisasi)
4 sdm gula pasir
2 sdm tepung maizena
Optional:
2 sdt vanilla bubuk / 2 sdm syrup vanilla

Cara Membuat Filling
1. Campur telur dan gula pasir,  kocok hanya sampai gula larut saja, tidak perlu sampai mengembang.
2. Masukkan susu cair, bubuk vanilla dan tepung maizena, aduk sampai tepung tercampur rata.
3. Diamkan sampai gelembung-gelembung kecil di permukaan adonan hilang.

Bahan Kulit

250 gr tepung terigu all purpose
150 gr salted butter dingin, potong kecil-kecil
2 butir kuning telur
1 sachet susu bubuk instan (27gr)
3 sdm air es

Cara Membuat

1. Campur semua bahan dalam wadah, aduk dengan menggunakan garpu sampai menjadi butiran-butiran rata.
2. Bentuk menjadi bulatan dan dipipihkan, kemudian gilas sampai mendapatkan ketebalan yang diinginkan.
3. Atur adonan kulit di dalam loyang pie berdiameter 20cm.
4. Tata pisang di dalam kulit pie sampai kulit terisi separuh lalu siram dengan bahan filling sampai memenuhi kulit.
5. Oven dengan suhu 180 derajat celcius api atas bawah selama 30 menit, lalu tambahkan 20 menit di suhu 160 derajat celcius api atas.

Resep ini aku sertakan dalam “Lomba Kreasi Olahan Pisang” di Ultahnya Grup Homemade Healthy Baby Food Yogya.

image

Donat ‘Water Rhoux’ : Dijamin Empuk Menul Menul..

image

Setelah 3 kali percobaan bikin donat kentang-nya Mbak Endang JTT selalu berakhir gatot *tutup muka* aku mulai mikir kalau tiap orang punya takdir sendiri sendiri, dan memang bukan takdirku untuk bisa bikin donat empuk nan lembut (okee kalau yang ini lebay -_- )
Sampai kemarin ada yang posting Donat Tangzhong di group NCC Foodphotography, katanya empuk banget tanpa kentang. Penasaran, aku coba browsing dan ternyata udah banyak banget yang bikin yaaa.. *lagi-lagi kudet*
Rata-rata yang pernah nyoba bikin bilang kalau empuknya awet sampai besok, dan anti gagal!! *penting banget*

Gak pakai nunggu besok, langsung aku eksekusi hari itu juga, mumpung masih pagi, si kakak masih di sekolah, karena kalau dia datang hancur lah harapan bikin adonan dengan hati tenang 😀 😀

Tapi rata-rata resep donat tangzhong itu mencampur ragi dengan bahan kering lainnya, padahal aku pernah punya pengalaman buruk dengan ragi yang wafat sebelum waktunya tapi gak ketauan gegara dicampur bahan kering, semenjak itu lebih pede kalau raginya aku ‘jadiin’ dulu dengan gula dan air hangat.
Makanya resep donat tangzhong yang banyak beredar itu aku modif lagi.. bahan-bahannya juga gak ada yang aku timbang, cukup pakai measuring cup and spoon aja, jauh lebih praktis daripada melototin angka timbangan.. yaa walaupun akhirnya si timbangan dikeluarin juga sih.. buat nimbang berat masing-masing adonan yang udah dibulatin 🙂 🙂

Yang ini versi aku 🙂

Bahan A

3 sdm tepung terigu (aku pakai segitiga biru)
150 ml air

Larutkan tepung dalam air sampai benar-benar rata lalu masak dengan api kecil sampai mengental dan berjejak, matikan api dan dinginkan adonan.

Bahan B

1 sachet ragi instan (aku pakai fermipan)
1/4 sdt gula pasir
1/8 cup air hangat

Campur dan aduk rata semua bahan dalam mangkok ukuran besar sampai ragi larut, diamkan 8-10 menit.

Bahan C

4 cup tepung terigu protein tinggi (aku pakai Cakra Kembar)
1/2 cup gula halus (aku blender sendiri, rasanya lebih manis dari gula halus jadi)
1/2 cup susu cair (aku pakai UHT Ultra plain)
1 butir telur
Optional:
3 sdm susu bubuk / 1sdt pasta susu (aku pakai Toffico)
1 sdt vanilla bubuk

Campur rata semua bahan dengan adonan A dan B, uleni sampai adonan tidak lengket ditangan (kurleb 5 menit).

Tambahkan 1/4 cup Margarine (aku pakai blue band cake and cookies) pada adonan.

Lanjutkan menguleni sampai adonan benar-benar kalis dan halus permukaannya (kalau aku memakan waktu kurang lebih 15-20 menit).

Rapihkan adonan menjadi bulatan besar, letakkan dalam wadah bersih yang cukup besar, tutup dengan serbet bersih dan proofing ditempat hangat kurang lebih 40-60 menit (tergantung suhu ruang, makin hangat makin cepat adonan mengembang).

Bagi-bagi adonan dengan berat masing-masing 50 gram, bentuk sesuai selera dan proofing kembali selama 10-15 menit.
Pada tahap ini, setelah dibentuk sebagian adonan bisa disimpan di freezer untuk digoreng besoknya, gak perlu diproofing lagi, langsung taruh di wadah yang tertutup rapat dan masukkan freezer. Besok saat akan di goreng adonan di thawning dulu kurang lebih satu jam dalam suhu ruang yang cukup hangat.

image
Ini penampakannya waktu beku

Goreng dengan api kecil supaya permukaan donat halus dan warnanya cantik 🙂

Hasilnya beneran mengembang, kopong di dalam, dan super empuuuuuk.. persis Jco!
Saking empuknya donat yang segede itu bisa dikunyah ayah dalam sekali emplokan hahahaa *rakus kalo itu mah*
Enaknya lagi, bisa dibikin dalam jumlah banyak dan digoreng secukupnya aja tiap mau makan, yang disimpan di freezer empuknya sama kok.

image

image

Puding Beras Jagung yang Super Ngeju

image

Niat awal bikin puding beras jagung buat cemilannya Arka yang lagi mogok makan nasi, kemarin-kemarin kan udah makan roti melulu gegara punya bread cutter baru, sekarang mulai bosen roti tapi tetap ga mau nasi -_-!
Makan mie mau sih, tapi ya mosok aku disuruh masak mie pagi siang malem? Padahal abang mie dokdok aja cuma malem doang masaknya 😀

Puding Beras Jagung

Bahan:
1 buah jagung manis ukuran besar, pipil dan blender halus kemudian disaring
1 sdm tepung beras homemade
2 sdm keju cheddar parut
1 sdm unsalted butter
1 sdt tepung maizena, aduk dengan sedikit air
200 ml santan (bisa diganti susu uht plain)
100 ml air

Cara Membuat:
1. Campur santan, air, tepung beras, dan perasan jagung, aduk rata sampai tidak ada yang menggumpal. Masak dengan panci di atas api kecil, kalau aku pakai magicom, asal sering diaduk hasilnya tidak akan bergumpal.
2. Setelah mulai matang masukkan keju dan butter, aduk rata.
3. Pindahkan magicom ke mode warmer / turunkan panci dari api, masukkan maizena dan aduk rata sampai mengental, tuang dalam cetakan dan taburi dengan sisa keju parut, ini bisa jadi sekitar 7 cup alumunium foil kecil.
4. Simpan dalam kulkas, makan saat sudah dingin.

Hasilnya lembut banget, wangi dan super ngejuu..

Alhamdulillah Arka doyan dan langsung ngabisin 1 cup. Eh tapi ternyata ada yang lebih doyan, malahan sanggup ngabisin 2 cup sekaligus.. siapa lagi kalau bukan si bayi gembul yang hari ini pas umur 7 bulan 😀

Raya memang sudah aku kenalin dengan bermacam dairy product dan telur sejak awal MPASI, kan menurut WHO gak ada pantangan lagi selama itu sehat, bersih, dan bergizi 🙂 jadi kalau kakaknya lagi makan brownies, banana cake, atau semacamnya gitu, sudah pasti si bayi ikut mangap (lebar banget) nunggu jatah.. herannya dia bisa ngunyah semua potongan kue itu sampai halus baru ditelan, lucu deh kalau lagi ngunyah, mecucu mecucu sambil senyam senyum girang. Jadi akhirnya hampir semua jatah kue dan cemilan kakak dihabisin si bayi 😀 😀

(Kali Ini Benar-Benar) Fudgy Brownies

image

Alkisah.. setelah berkali-kali (dan hampir putus asa) nyoba bikin fudgy brownies yang beneran fudgy, chewy dan yang paling penting nge’crust’ di atasnya, tetiba muncul lah si shiny crust yang paling aku tunggu-tunggu itu, padahal mah gak sengaja, niatnya cuma mau bikin brownies biasa aja buat Arka 😀

Entah apa yang bikin si shiny crust ini akhirnya muncul, yang jelas baking kali ini aku membebas-tugaskan timbangan dan mixerku, cukup modal measuring cup & spoon dan whisker aja, dan ternyata memang lebih praktis pakai measuring cup & spoon, takarannya pasti sama kaya resepnya, gak kaya si timbangan manual yang tiap digoyang dikit jarumnya geser -_-

Resep brownies yang ini hasil intip-intip punyanya mbak Ricke di sini dan mbak Nina di sini, terus aku combined juga dengan hasil baca-baca di milis NCC yang pada ngebahas gimana cara buat lapisan kinclongnya.

Hasilnya, gak cuma si shiny crust aja yang sukses keliatan blink blink, rasanya pun chewy bangeeet.. basah didalam garing di atas.. aaah aku terharu :’)

image
Ini penampakan pas baru keluar oven, kincloooong! *abaikan almondnya yang gosong yaa..*

Mumpung belum lupa, aku tulis yang versi aku, takaran dan bahannya semua yang aku pakai kemarin.

Fudgy Brownies
Adaptasi dari resep Mbak Ricke dan Mbak Nina

Bahan
250 gr dcc colatta (punya yang ukuran segitu, cemplungin semua aja lah..)
8 sdm unsalted butter elle & vire (seperti biasa ngambil stoknya Raya, ntar bunda ganti ya dek..)
1 1/4 cup gula pasir, blender halus
3 butir telur, kocok lepas
1 cup terigu segitiga biru
1/4 cup coklat bubuk van houten
1 sdt baking powder
1 sdt garam halus

Cara Membuat
1. Alasi loyang ukuran 20×20 cm (lebih bagus pakai yang ukuran 22×22) dengan kertas roti.
2. Panaskan oven dengan suhu 190 derajat, atur diwaktu 20 menit.
3. Campur dan ayak terigu, garam dan baking powder, sisihkan.
4. Tim dcc dan butter sampai meleleh, aduk rata menggunakan whisk sambil menunggu dingin.
5. Masukkan gula halus, aduk sampai gula tercampur rata dan tidak menggumpal.
6. Masukkan telur, aduk tapi jangan terlalu lama, hanya sampai telur menyatu dengan coklat.
7. Masukkan campuran terigu, aduk balik sampai benar-benar rata.
8. Tuang ke dalam loyang, taburi dengan almond sliced.
9. Panggang dengan suhu 190 derajat selama 30-35 menit, tes tusuk untuk mendapatkan tekstur kematangan sesuai selera.
10. Keluarkan dari oven, tunggu dingin dulu baru bisa dikeluarkan dari cetakan dan dipotong karena shiny crustnya rapuh saat masih panas.

image
Ini setelah nginep semalam

Today’s Mood booster: Melted Brownies

image

Seumur-umur baru kali ini bikin brownies gak pake mixer 😀 😀 biasanya mah gak pede (aka males ngaduk) kalau gak dimasukin mixer, walaupun setelannya yang low speed dan cuma 1 menit tetep kudu pake heheee..

Jadi, aku deklarasikan brownies kali ini sebagai brownies tergampil dan terburu-buru versi aku 😀 😀

Resepnya nyontek dari Brownies Agogonya mbak Yenny Agustin yang (seperti biasanya) aku sesuaikan sama seleraku. Aduuh itu coklatnya beneran mbleber mbleber pas dipotong.. terus rasanya nyoklaaaat bangeeet.. *kecup timbangan badan*

image

Melted Brownies
By: Yenny Agustin (Modifikasi: Yoan)

Bahan:
100 gr terigu all purpose (aku pakai segitiga biru)
100 gr unsalted butter (aku pakai elle&vire unsalted)
130 gr dark cooking chocolate (aku pakai colatta professional)
50 gr coklat couverture (aku pakai tulip)
2 butir telur
5 sdm gula pasir
1 sachet coffee cream instan (aku pake nescafe)

Cara Membuat:
1. Tim dcc dan butter sampai meleleh rata.
2. Masukkan gula pasir, aduk dengan spatula.
3. Masukkan telur, aduk lagi.
4. Masukkan terigu dan nescafe, aduk rata
5. Alasi loyang ukuran 24x10cm dengan kertas roti. Preheat oven.
6. Tuang separuh adonan ke dalam loyang, tata coklat couverture di atas adonan lalu tutup dengan sisa adonan. Taburi bagian atasnya dengan almond cincang.
7. Panggang di suhu 190 derajat selama 25-30 menit
8. Seperti biasa, tusuk dengan lidi untuk mengetahui tingkat kematangan si brownies.

Setelah matang yang separuh langsung aku amankan di tuppy dan masuk kulkas karena aku pingin tau rasanya kalau sudah diinapkan semalam.
Nah beneran aja.. yang separuh lagi cuma tinggal remahannya dalam waktu satu jam, siapa lagi pelakunya kalau bukan Arka! laper ya kak? 😀 😀

Update 3 April 2014

Hasilnya setelah semalaman nginep di freezer (sengaja aku taruh freezer supaya selamat dari penglihatannya kakak *emakdurhaka*) lelehan coklatnya tetap gak bisa beku, teksturnya jadi lebih moist, digigit tetap empuk dan dingiiiin.. super nagih!!
image

Vanilla Bread Butter Pudding

image

Dalam rangka nyobain bakeware baru yang kepikiran bikin bread pudding alias puding roti sejuta umat hihihiii.. karena semua orang pasti pernah dan bisa bikin, cuma modifikasinya yang macem-macem 🙂

Versi aku kali ini, rotinya pakai baguette aka roti prancis yang mirip pentungan hansip, tambahin sirup vanilla dan taburin bubuk cinnamon banyak-banyak, pas mejelang mateng wanginya udah merajalela kemana-mana, bikin si kakak betah nungguin di depan oven sambil pegang senter, sibuk ngintipin si puding ini 😀 😀

image

Bahan:
1 buah roti baguette (ukuran kecil), potong menyamping kira-kira selebar 2 cm
100 gr unsalted butter (aku pakai elle&vire)
100 ml krim kental (aku pakai elle&vire)
1 butir telur utuh
1 kuning telur
2 sdm syrup vanilla (aku pakai marjan)
5 sdm gula pasir
Bubuk Cinnamon secukupnya

Cara Membuat:
1. Tata potongan roti di dalam mangkok tahan panas.
2. Lelehkan butter, lalu dinginkan.
3. Campur butter dengan gula, telur, krim kental, dan syrup vanilla, aduk rata.
4. Siram adonan ke atas roti sampai semua basah dan terendam rata. Diamkan selama 30-40 menit.
5. Taburi dengan bubuk cinnamon.
6. Panggang di suhu 190 derajat selama 30 menit.

Gampang bangeet.. aku bikinnya disambi momong si bayi 😀

Choco Peanut Jam

image

Kenaikan harga-harga (terutama makanan) makin lama makin nyebelin yeeuuh.. terakhir kesel banget karena harga selai coklat kesukaannya Arka naik 100%, itu mah bukan naik tapi ganti harga -__-

Tapi gara-gara itu malah kepikiran bikin selai coklat sendiri aja, disamping jauh lebih murah juga jelas lebih sehat 🙂
Ternyata proses bikinnya cepet dan ga pake ribet, komposisi bahan dan takarannya hasil menerawang aka ngarang 😀 😀 hasilnya? kata mama (yang selama ini paling doyan komplen) enaak!!

Berikut resepnya yaa..

Bahan:
150 gr Dark cooking chocolate (aku pakai tulip)
50 gr White chocolate (aku pakai Collata)
100 gr kacang tanah
30 gr unsalted butter (aku pakai elle&vire)
50 ml susu cair plain
1 sdm gula pasir
1/2 sdt garam halus

Cara membuat:
1. Oven kacang sampai matang, buang kulitnya, haluskan dengan food processor atau blender sampai keluar minyaknya, sisihkan.
2. Tim dark chocolate dan white chocolate sampai meleleh.
3. Masukkan butter, susu cair, gula, garam, dan kacang, aduk pelan sampai benar-benar tercampur rata dan kelihatan halus.
4. Setelah dingin, tempatkan di toples kecil.

Fudgy Brownies

image

Kesampaian juga deh bikin brownies super boros tapi super endeeuus ini, lha ya gimana gak boros wong beli dcc yang kotak kecil langsung ludes dipake semua 😀
Tapi memang hukum ‘ada harga ada kualitas’ selalu berlaku untuk apapun kok ya.. hihihiiii..
Kayak pas aku selesai bikin brownies ini, biasanya kan kritikus-kritikus bawel di rumah ada aja komplennya, biasanya sih pada kompak bilang kurang nyoklat. Tapi begitu aku sodorin yang ini, semua diem aja tapi langsung bolak balik ngambil lagi dan lagi dan lagi, sampe aku harus langsung mengamankan beberapa potong buat.. difoto! hahahaa 😀 😀

Resepnya aku nyontek resep fudgy brownies yang sering tayang di blog masakan, aku modif sedikit sesuai selera aku 🙂
image

Bahan:
250 gr dark cooking chocolate
120 gr unsalted butter
120 gr tepung terigu all purpose
200 gr gula pasir
3 butir telur
2 sdt coklat bubuk
1 sdt baking powder
1 sdt rhum
1 sdt garam halus

Cara membuat:
1. Tim dcc dan butter sampai meleleh, tunggu agak dingin, mikser dengan kecepatan rendah sampai halus.
2. Masukkan gula pasir, mikser rata.
3. Masukkan telur.
4. Masukkan terigu, baking powder, coklat bubuk dan garam halus (yang sudah dicampur dan diayak).
5. Setelah semua tercampur rata, matikan mikser.
6. Tuang adonan di loyang persegi ukuran 22×22, taburi dengan almond slice.
7.panggang di oven dengan suhu 180 derajat celcius selama 40 menit.

Kalau di makan dalam keadaan dingin atau sehari sesudahnya akan lebih enak 🙂

White Choc Almond Cake

image

Biasanya gak pernah suka sama white choc aka coklat putih (coklat kok putih? labil yee..) karena rasanya yang manis kebangetan, jadi waktu mendadak dapet lungsuran white choc yang lumayan banyak malah bingung mau diapain, ditolak sayang pun.. dasar mental gratisan 😀
Mama bilang dibikin kaya brownies aja sapa tau enak.. kebeneran masih ada stok almond ground juga dikulkas, bisa dicemplungin sekalian 🙂
Tapi berhubung aku belum pernah mengolah white cake sebagai bahan utama kueh (biasanya cuma buat garnis) dan gak punya resepnya juga, jadi percobaan kali ini kebanyakan ngayalnya hahahaa 😀

Resepnya gini:

Bahan:
200 gr white choc (aku pake colatta)
150 gr unsalted butter (aku pake elle&vire)
50 gr terigu
3 butir telur ayam
5 sdm almond ground
1 sdm gula pasir
1 sdm sirup vanilla
1 sdt garam
1 sdt baking powder
1 sdt meyers rhum

Cara membuat:
1. Tim white choc dan butter sampai lumer, tunggu agak dingin lalu mikser sampai lembut dengan kecepatan paling rendah.
2. Masukkan gula pasir disusul telur.
3. Ayak terigu, baking powder dan garam, masukkan dalam adonan mikser. Terakhir tambahkan rhum dan sirup vanilla, setelah tercampur rata matikan mikser (jangan kelamaan miksernya, cukup sampai tercampur rata aja).
4. Tuang adonan di loyang persegi (aku pakai ukuran 18×18) yang sudah dioles kertas roti, taburi dengan sisa almond ground.
5. Panggang dengan suhu 160 derajat selama 40 menit.

Hasilnya lembuuut dan rasanya susu banget, tapi gak manis dan eneg, nagih deh 🙂

image
Ini pas baru keluar oven